
Hamdan Hamidin, S.Pd. aktifis dan praktisi pendidikan di Kabupaten Bantaeng mengawali tulisannya dengan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada diri sendiri dan kepada kekuatan yang telah menanamkan jiwa misionaris pendidik ini dalam diri. Perjalanan hingga titik ini sungguh tidak mudah. Perlu usaha keras untuk membangun empati terhadap dunia dan segala isinya. Terlahir tanpa didikan hedonisme, saya banyak belajar dari kemudahan ; Hidup sederhana yang seringkali dianggap tidak memiliki apa-apa. Namun, dibalik itu, hati selalu berbicara lebih dari sekadar menanggapi. Mata, dengan segala keterbatasannya, hanya melihat asumsi belaka—jasad sederhana yang berjalan, tanpa sepenuhnya menyadari bahwa di dalamnya tersembunyi sesuatu yang sangat membiarkan ruah: “Jiwa Peduli.”
Saya teringat sebuah perintah Tuhan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang berpura-pura meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka). Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mendengarkan perkataan yang benar.”
Ayat ini memiliki kaitan yang erat dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Melihat keadaan generasi yang semakin hari semakin melemah, seolah-olah mereka tidak menyadari bahwa diri mereka adalah secercah harapan bagi bangsa dan dunia untuk memberikan yang terbaik di masa depan.
Hampir setiap hari, kita mendengar keluh kesah dan rasa prihatin terhadap anak-anak muda dan remaja. Tak hanya di media informasi, keluh kesah ini juga mulai banyak terdengar di sudut-sudut sekolah. Apalagi mata ini kadang tercemari oleh tontonan video-video pelajar yang seolah-olah tanpa didikan.
Apakah kita akan menyalahkan mereka? Tentu saja tidak ada lagi yang seperti itu. Saya tidak menyalahkan siswa, tidak menyalahkan guru, dan tidak menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, saya lebih menyalahkan nafsu manusia yang terkadang ingin membatasi ruang gerak yang mencakup empati dan kesadaran untuk melakukan perubahan. Ini adalah tanggung jawab kita untuk berperan penting sebagai manusia yang memiliki rasa keseluruhan dan tanggung jawab sosial.
Mereka bukanlah robot yang diciptakan hanya untuk satu kepentingan saja. Mereka sama dengan kita semua, mereka adalah ciptaan Tuhan yang harus kita rawat. Sekalipun tidak mudah, kita tidak boleh berhenti. Mengapa? Karena merekalah yang nantinya akan menggantikan posisi kita untuk merawat dunia. Bekal mereka tidak akan cukup jika kita semua hanya berdiam diri dan meratapi nasib yang sudah menjadi bubur.
Jalur pendidikan adalah jalur utama dalam membentuk kepribadian generasi. Pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang-ruang kelas di sekolah, tetapi memiliki tempat kapan pun dan di mana pun. Di rumah, kita bertemu dengan orang tua sebagai pendidik; di sekolah, kita bertemu dengan guru sebagai pendidik; di masjid, kita punya ustaz sebagai pendidik. Di mana saja, kita akan menemukan pendidik. Bahkan Anda yang membaca tulisan ini pun adalah seorang pendidik. Siapapun itu, Anda adalah pendidik.
Guru adalah salah satu pendidik yang sampai detik ini menjadi kepercayaan orang tua dalam hal mengedukasi, merawat, membimbing, dan mengajar anak-anak kesayangan mereka. Namun, banyak yang mempertimbangkan profesi ini karena berbagai alasan, mulai dari gaji yang dianggap rendah dengan beban kerja yang berat hingga status sosial yang dianggap rendah.
Tapi tunggu dulu. Sebagai seorang guru, saya punya alasan untuk menjelaskan. Jika profesi guru ini hanya dijadikan sebagai beban yang harus dituntaskan dan diperingati untuk mendapatkan gaji, maka mereka saja dapat membangun paradigma negatif demikian. Namun, hal yang sama akan berbeda jika profesi guru tidak hanya dijadikan sebagai pekerjaan untuk mendapatkan gaji semata, melainkan sebagai akses perjuangan untuk mengimplementasikan dan menginternalisasi nilai-nilai intelektual dan kemanusiaan siswa dan siswi yang mereka kenal di sekolah.
Saya harus berani jujur bahwa sebagai seorang guru, saya pernah terlena dengan upah yang saya dapatkan dari mengajar, meskipun upah honorer itu terbilang tidak banyak dan juga tidak sedikit. Saya merasakan sedikit perbedaan antara “tanggal tua” dan “awal bulan.” Awal bulan terasa semangat, dan di akhir bulan semangat menurun. Akibatnya tentu saja akan ada perbedaan dalam proses pembelajaran yang semangat dan jenuh. Namun, saya tidak mempunyai cukup informasi untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin dianggap buruk oleh kalangan masyarakat terhadap guru lain yang kurang sama dengan yang saya alami sebelumnya.
Apapun bentuk dinamikanya, kita harus tersadarkan sebagai seorang pendidik bahwa masa depan anak-anak bangsa salah satunya berada pada genggaman para guru pendidik hebat. Apabila genggaman itu terlepas, mungkin saja mereka tidak langsung terjatuh, namun akan sangat memprihatinkan jika digenggam oleh tangan-tangan besi yang juga mampu menggenggam.
Melalui hasil perenungan yang bukan dalam tempo sesingkat-singkatnya, saya disadarkan oleh anak remaja yang berjalan di tepi kota sambil mengais isi kantong sampah yang bau dan menjijikkan. Bagaimana tidak, seorang yang mengaku sudah menjadi guru diajar oleh anak remaja tentang sebuah ketulusan. “Manna mamo rantasaka’ assala nia tong ri atingku panggaukang baji’ om, tapporo nakke mo tala anrapo sikolaku assala andiku kucini ammakeang pasikola.” (Walaupun saya kotor, yang jelas di dalam hati masih ada perlakuan baik, Om. Cukuplah saya yang tidak sekolah, yang penting saya bisa melihat adikku berpakaian sekolah).
Bahasa ini terus menghantui hati saya—di tempat ngopi, di tempat tidur, di tempat bersantai, selalu saja terdengar bisikan anak tadi. Terdengar sangat tulus, bertanggung jawab, peduli, dan penuh cinta. Dari ketulusan dan rasa cinta ini, saya belajar dan berpikir bahwa ini bukan hanya masalah hubungan sedarah, tetapi tentang hubungan kemanusiaan dan tanggung jawab.
Gelar “kakak” dan “guru” adalah satu hal yang sama: keduanya memiliki tugas, tanggung jawab, empati, dan cinta. Kakak bertanggung jawab pada adiknya yang sangat ia sayangi, dan guru bertanggung jawab pada muridnya yang sangat ia sayangi. Ini menjawab semua pertanyaan tentang kesuksesan pendidikan yang secara normatif, tanggung jawab dan rasa cinta ini adalah sikap fundamental yang harus dimiliki oleh setiap guru.
Dari jiwa menciptakan cinta, cinta menumbuhkan ketulusan, ketulusan merangkai solusi, dan solusi menjawab segala permasalahan.
Mengajar dan mendidik bukan sekedar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Bukan mencintai pekerjaan yang membuat kita semangat dan berapi-api, melainkan ketulusan dan tanggung jawab moral kemanusiaan yang menjadi stimulus utama dalam membangkitkan syahwat pengabdian.
Terakhir, ini bukan berarti menyepelekan upah/gaji dari pekerjaan, melainkan hanya ingin memotivasi agar tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berdampak. Buatlah upah dan jiwa yang sadar selalu berjalan beriringan. Di satu sisi, kita membutuhkan finansial untuk berjalan, tetapi di sisi lain, kita pun membutuhkan ketulusan untuk memaksimalkan segala bentuk iktikad baik kita.
Jiwa yang sadar adalah jiwa yang tidak dimatikan oleh lembaran alat tukar. @amykajang
