MAKASSAR.SUARAGURUSULSELNEWS.COM—Di tengah arus perbedaan yang kian beragam di ruang kelas, pendidik dituntut tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga piawai menumbuhkan toleransi. Menjawab tantangan itu, Leimena Institute menggelar Workshop Hybrid Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) pada 8–10 Agustus 2025 di Hotel Santika Makassar, memadukan pembelajaran teori, praktik micro teaching, hingga kunjungan lintas agama untuk memperkuat kapasitas guru dalam mengelola keragaman secara inklusif.
Workshop tersebut dirancang untuk membekali guru agar memiliki pemahaman komprehensif mengenai LKLB dan keterkaitannya dengan Kurikulum Nasional, keterampilan mengintegrasikan nilai-nilai toleransi ke dalam modul ajar atau program sekokah yang relevan, serta kemampuan mempraktikkan pembelajaran berbasis LKLB di sekolah masing-masing.
Rangkaian materi dibuka oleh narasumber nasional, Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., melalui topik “Relevansi Literasi Keagamaan Lintas Budaya dalam Masyarakat Majemuk”. Yayah menegaskan pentingnya keterampilan lintas budaya bagi pendidik, agar proses belajar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa hormat terhadap keberagaman.
Sesi berlanjut bersama Listia Suprobo, S.Ag., M.Hum., yang mengupas “Implementasi LKLB di Sekolah & Pembuatan Rancangan Pembelajaran/Modul Ajar”. Para peserta kemudian terlibat dalam praktik micro teaching, mengasah keterampilan pedagogis sekaligus memastikan nilai-nilai LKLB dapat diinternalisasikan secara efektif dalam pembelajaran.
Tak hanya teori, workshop ini juga menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui kunjungan lapangan ke Gereja Jemaat Toraja Bawakaraeng dan Masjid Al Markaz Al Islami Makassar. Peserta mendapat wawasan langsung tentang harmoni sosial dan toleransi yang terjalin di tengah masyarakat majemuk.
Kepala UPT SD Negeri 10 Benteng, Zulkifli, salah satu peserta workshop, menyampaikan kesan positifnya.
“Materi dan praktik lapangan yang diberikan sangat relevan dengan konteks sekolah kami. Workshop ini menjadi panduan praktis untuk menjadikan sekolah sebagai ruang aman, inklusif, dan kondusif bagi pembentukan karakter peserta didik yang menghargai perbedaan,” ujarnya.
Lebih jauh, Zulkifli yang juga Ketua KKG PAI Kabupaten Sidrap tersebut menaruh harapan besar agar ilmu dan pengalaman dari workshop ini tidak berhenti pada dirinya saja.
“Kami bertekad agar seluruh guru di sekolah, termasuk teman-teman dari Guru PAI Kabupaten Sidrap juga merasakan manfaat yang sama, sehingga budaya toleransi dan inklusivitas dapat hidup dalam setiap pembelajaran. Jika anak-anak kita terbiasa menghargai perbedaan sejak dini, saya yakin mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu merawat persatuan bangsa,” pungkasnya
Kegiatan diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL)yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Leimena Institute berharap, implementasi hasil workshop ini dapat menjadi model praktik baik penguatan moderasi beragama di tingkat satuan pendidikan, khususnya di wilayah dengan keragaman budaya dan agama.(*)
